Thursday, February 28, 2013

BDP Group Task : EVALUASI HASIL BELAJAR



 “EVALUASI HASIL BELAJAR”
MKDK BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
PMIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS RIAU
2012

I.       Pendahuluan
a.       Latar Belakang
Sebagai mahasiswa yang sedang menempuh ilmu di fakultas keguruan, wajar bila masing-masing mahasiswa telah mempersiapkan diri menjadi seorang tenaga pendidik sedikit demi sedikit. Ilmu yang terus diberikan dalam berbagai mata kuliah, menjadi modal yang besar untuk menjalankan profesi di masa depan. Menjadi guru bukanlah hal yang mudah, banyak sekali yang harus dipahami agar proses pembelajaran di kelas tidak sia-sia, salah satunya mengenai evaluasi.

Evaluasi merupakan suatu bagian kegiatan yang mendukung keberhasilan suatu pembelajaran. Evaluasi hasil bertujuan untuk menilai apakah hasil belajar dicapai siswa sesuai dengan tujuan belajar. Wiersma dan Jurs membedakan antara evaluasi, pengukuran dan testing. Mereka berpendapat bahwa evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pengukuran dan mungkin juga testing, yang juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Arikunto yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai. Pengertian penilaian atau evaluasi yang ditekankan pada penentuan nilai suatu obyek dikemukakan oleh Nana Sudjana. Ia menyatakan bahwa penilaian adalah proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria tertentu, seperti ‘Baik’ , ‘Sedang’, atau ‘Buruk’.

Secara klasik, tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk membedakan kegagalan dan keberhasilan seorang peserta didik. Namun dalam perkembangannya evaluasi dimaksudkan untuk memberikan umpan balik kepada peserta didik maupun kepada pendidik sebagai pertimbangan untuk melakukan perbaikan serta jaminan terhadap publik sebagai tanggung jawab institusi yang telah meluluskan.

Untuk itulah, sebagai calon pendidik, mahasiswa Pendidikan Matematika seharusnya memahami dan diberikan pengetahuan sedini mungkin mengenai pentingnya evaluasi hasil belajar, agar nanti tidak kebingungan dan asal-asalan mengelola hasil belajar siswa. Melalui makalah ini, mahasiswa diharapkan bisa mengembangkan pola pikir dengan berdiskusi dan tanya jawab, agar seluruh mahasiswa nantinya kan paham  dan siap menjadi seorang pendidik. Makalah ini juga menjadi modal yang kita tabung untuk mewujudkan keberhasilan kita sebagai pendidik di masa yang akan datang.

b.      Tujuan
                                               i.      Untuk mendukung proses pembelajaran mata kulian Belajar dan Pembelajaran di kelas
                                             ii.      Untuk mengetahui tujuan evaluasi hasil belajar
                                           iii.      Untuk memahami berbagai jenis serta pendekatan evaluasi hasil belajar
                                           iv.      Untuk mendapatkan pengetahuan mengenai langkah-langkah evaluasi hasil belajar
                                             v.      Untuk mengetahui manfaat evaluasi hasil belajar

c.       Rumusan Masalah
                                               i.      Apa saja yang menjadi tujuan dari evaluasi hasil belajar?
                                             ii.      Apa saja jenis-jenis serta pendekatan dalam evaluasi hasil belajar?
                                           iii.      Bagaimana langkah-langkah menyusun suatu evaluasi hasil belajar?
                                           iv.      Apa manfaat yang ddapatkan melalui evaluasi hasil belajar?

d.      Manfaat
                                               i.      Dapat mengetahui tujuan evaluasi hasil belajar
                                             ii.      Dapat mengetahui jenis-jenis serta pendekatan dalam evaluasi hasil belajar
                                           iii.      Dapat memahami langkah-langkah evaluasi hasil belajar
                                           iv.      Dapat mengetahui manfaat evaluasi hasil belajar





II.    Pembahasan
A.    Tujuan Evaluasi Hasil Belajar
      Evaluasi terhadap hasil belajar siswa bukan merupakan suatu kegiatan yang hanya dilakukan untuk memenuhi tugas sebagai pendidik. Evaluasi harus dilakukan sesuai tujuan. Secara umum, evaluasi hasil belajar bertujuan untuk :

·         Menilai pencapaian kompetensi peserta didik; setiap peserta didik memiliki tingkat kemampuan yang berbeda-beda dalam belajar. Evaluasi yang dilakukan akan membantu pendidik mendeteksi materi atau konsep apa yang kurang dipahami siswa sehingga perlu diberi penguatan atau penjelasan kembali.
·         Memperbaiki proses pembelajaran; Melalui evaluasi, pendidik dapat menilai sendiri bagaimana tingkat keberhasilan pembelajaran yang telah berlalu. Apakah baik, cukup, atau kurang. Jika sudah baik, maka pendidik perlu menambah atau mempertahankan respon positif siswa. Jika cukup, pendidik harus menyiasati agar pembelajaran memperoleh hasil yang lebih baik kedepannya. Jika ternyata masih kurang, pendidik harus segera mencari jalan keluar dengan mengganti atau mengimprovisasi proses pembelajarannya.
·         Sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan belajar siswa; Pendidik tidak hanya memantau dan memonitor perkembangan belajar siswa di kelas, namun juga harus berkomunikasi dengan orangtua siswa. Orangtua wajib mengetahui sejauh apa dan bagaimana anaknya belajar dan berinteraksi di kelas. Evaluasi dapat digunakan sebagai tolak ukur bagi pendidik untuk melaporkan kemajuan anak kepada orangtuanya masing-masing.

Sementara itu, juga terdapat tujuan khusus dalam kegiatan evaluasi terhadap hasil belajar siswa, yaitu :
o   Mengetahui kemajuan dan hasil belajar siswa; Pendidik perlu mengetahui kemajuan dan bagaimana hasil belajar siswa. Siswa menjadi tanggung jawab pendidik. Siswa tidak boleh dibiarkan dan diabaikan oleh pendidik. Segala kemajuan atau hambatan belajar siswa harus terdeteksi oleh pendidik, sehingga di sekolah, pendidik mampu mengkondisikan proses pembelajaran agar siswa mendapatkan hasil maksimal dalam belajar.
o   Mendiagnosis kesulitan belajar; Peserta didik tidak selamanya dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Terkadang, berbagai faktor baik dari internal maupun eksternal kerap muncul dan menghambat konsentrasi serta pemahaman siswa. Siswa mungkin saja memiliki kelemahan pada suatu materi yang menyebabkan ia tidak bersemangat belajar sehingga tidak dapat memberikan hasil maksimal. Kasus lainnya, bisa saja siswa kurang menguasai konsep sebelumnya sehingga mengalami kesulitan dalam materi baru. Evaluasi dapat membantu pendidik mendiagnosa kelemahan-kelemahan tersebut melalui hasil belajar siswa, agar dapat dilakukan perbaikan atau penguatan kembali.
o   Memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar; Peserta didik akan mengetahui dan mengukur sendiri kemampuannya melalui hasil belajar. Apabila ia mengetahui bahwa hasil belajar temannya lebih baik, ia akan merasa termotivasi untuk belajar lebih giat agar mendapatkan hasil maksimal pada materi selanjutnya. Siswa yang mendapat nilai tinggi akan merasa senang atas usaha kerja kerasnya selama ini. Bagi siswa yang mendapat nilai kurang dari teman lainnya, ia akan merasa butuh tambahan materi dan penguatan dari guru atau ia akan bertanya pada temannya.
o   Penentuan kenaikan kelas; Evaluasi hasil belajar juga digunakan sebagai tolak ukur kelulusan peserta didik pada mata pelajaran, sehingga akan berpengaruh pada nilai akhir siswa. Siswa yang dapat memenuhi syarat kenaikan kelas, berarti telah layak atau mampu melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Namun untuk siswa yang belum memenuhi syarat kenaikan kelas, pendidik menyadari siswa tersebut membutuhkan waktu yang lebih lama dan belum siap untuk diberikan materi setara tingkatan yang lebih atas.

Dari beberapa tujuan yang telah diungkapkan di atas, evaluasi belajar sangat penting baik dari segi siswa, pendidik, hingga orangtua. Seluruh pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran mengandalkan hasil belajar sebagai tolak ukur pengambilan tindakan berikutnya.




B.     Jenis dan Pendekatan Evaluasi Hasil Belajar
1.      Evaluasi Formatif.
Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan.
Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung, agar siswa dan guru memperoleh informasi (feedback) mengenai kemajuan yang telah dicapai. Sementara Tesmer menyatakan formative evaluation is a judgement of the strengths and weakness of instruction in its developing stages, for purpose of revising the instruction to improve its effectiveness and appeal.
Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut. Wiersma menyatakan formative testing is done to monitor student progress over period of time.
Ukuran keberhasilan atau kemajuan siswa dalam evaluasi ini adalah penguasaan kemampuan yang telah dirumuskan dalam rumusan tujuan (TIK) yang telah ditetapkan sebelumnya. TIK yang akan dicapai pada setiap pembahasan suatu pokok bahasan, dirumuskan dengan mengacu pada tingkat kematangan siswa. Artinya TIK dirumuskan dengan memperhatikan kemampuan awal anak dan tingkat kesulitan yang wajar yang diperkiran masih sangat mungkin dijangkau/ dikuasai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Dengan kata lain evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai.
Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan diberikan remedial, yaitu bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu.
Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya, bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan, yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan pendalaman dari topik yang telah dibahas.
2.      Evaluasi Sumatif
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya.
Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu, yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester, bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi.
3.      Evaluasi Diagnostik
Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat. Evaluasi diagnostik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan, baik pada tahap awal, selama proses, maupun akhir pembelajaran. Pada tahap awal dilakukan terhadap calon siswa sebagai input. Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai oleh siswa.
Pada tahap proses evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui bahan-bahan pelajaran mana yang masih belum dikuasai dengan baik, sehingga guru dapat memberi bantuan secara dini agar siswa tidak tertinggal terlalu jauh. Sementara pada tahap akhir evaluasi diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi yang telah dipelajarinya.
Dalam evaluasi hasil belajar, ada dua jenis pendekatan penilaian yang dapat digunakan untuk menafsirkan sekor menjadi nilai. Kedua pendekatan ini memiliki tujuan, proses, standar dan juga akan menghasilkan nilai yang berbeda. Karena itulah pemilihan dengan tepat pendekatan yang akan digunakan menjadi penting. Kedua pendekatan itu adalah Pendekatan Acuan Norma (PAN) dan Pendekatan Acuan Patokan (PAP).
Sejalan dengan uraian di atas, Glaser (1963) yang dikutip oleh W. James Popham menyatakan bahwa terdapat dua strategi pengukuran yang mengarah pada dua perbedaan tujuan substansial, yaitu pengukuran acuan norma (NRM) yang berusaha menetapkan status relatif, dan pengukuran acuan kriteria (CRM) yang berusaha menetapkan status absolut.
Sejalan dengan pendapat Glaser, Wiersma menyatakan norm-referenced interpretation is a relative interpretation based on an individual’s position with respect to some group. Glaser menggunakan konsep pengukuran acuan norma (Norm Reference Measurement / NRM) untuk menggambarkan tes prestasi siswa dengan menekankan pada tingkat ketajaman suatu pemahaman relatif siswa. Sedangkan untuk mengukur tes yang mengidentifikasi ketuntasan / ketidaktuntasan absolut siswa atas perilaku spesifik, menggunakan konsep pengukuran acuan kriteria (Criterion Reference Measurement).
       Penilaian Acuan Patokan (PAP), Criterion Reference Test (CRT)
Tujuan penggunaan tes acuan patokan berfokus pada kelompok perilaku siswa yang khusus. Joesmani menyebutnya dengan didasarkan pada kriteria atau standard khusus. Dimaksudkan untuk mendapat gambaran yang jelas tentang performan peserta tes dengan tanpa memperhatikan bagaimana performan tersebut dibandingkan dengan performan yang lain. Dengan kata lain tes acuan kriteria digunakan untuk menyeleksi (secara pasti) status individual berkenaan dengan (mengenai) domain perilaku yang ditetapkan / dirumuskan dengan baik.
Pada pendekatan acuan patokan, standar performan yang digunakan adalah standar absolut. Semiawan menyebutnya sebagai standar mutu yang mutlak. Criterion-referenced interpretation is an absolut rather than relative interpetation, referenced to a defined body of learner behaviors. Dalam standar ini penentuan tingkatan (grade) didasarkan pada sekor-sekor yang telah ditetapkan sebelumnya dalam bentuk persentase. Untuk mendapatkan nilai A atau B, seorang siswa harus mendapatkan sekor tertentu sesuai dengan batas yang telah ditetapkan tanpa terpengaruh oleh performan (sekor) yang diperoleh siswa lain dalam kelasnya.
Salah satu kelemahan dalam menggunakan standar absolut adalah sekor siswa bergantung pada tingkat kesulitan tes yang mereka terima. Artinya apabila tes yang diterima siswa mudah akan sangat mungkin para siswa mendapatkan nilai A atau B, dan sebaliknya apabila tes tersebut terlalu sulit untuk diselesaikan, maka kemungkinan untuk mendapat nilai A atau B menjadi sangat kecil. Namun kelemahan ini dapat diatasi dengan memperhatikan secara ketat tujuan yang akan diukur tingkat pencapaiannya.
Dalam menginterpretasi skor mentah menjadi nilai dengan menggunakan pendekatan PAP, maka terlebih dahulu ditentukan kriteria kelulusan dengan batas-batas nilai kelulusan. Umumnya kriteria nilai yang digunakan dalam bentuk rentang skor berikut:
Rentang Skor Nilai :
ü  80% s.d. 100% A
ü  70% s.d. 79% B
ü  60% s.d. 69% C
ü  45% s.d. 59% D
ü  < 44% E / Tidak lulus
        Penilaian Acuan Norma (PAN), Norm Reference Test (NRT)
Tujuan penggunaan tes acuan norma biasanya lebih umum dan komprehensif dan meliputi suatu bidang isi dan tugas belajar yang besar. Tes acuan norma dimaksudkan untuk mengetahui status peserta tes dalam hubungannya dengan performans kelompok peserta yang lain yang telah mengikuti tes. Tes acuan kriteria Perbedaan lain yang mendasar antara pendekatan acuan norma dan pendekatan acuan patokan adalah pada standar performan yang digunakan.
Pada pendekatan acuan norma standar performan yang digunakan bersifat relatif. Artinya tingkat performan seorang siswa ditetapkan berdasarkan pada posisi relatif dalam kelompoknya; Tinggi rendahnya performan seorang siswa sangat bergantung pada kondisi performan kelompoknya. Dengan kata lain standar pengukuran yang digunakan ialah norma kelompok.
Salah satu keuntungan dari standar relatif ini adalah penempatan sekor (performan) siswa dilakukan tanpa memandang kesulitan suatu tes secara teliti. Kekurangan dari penggunaan standar relatif diantaranya adalah :
v  Dianggap tidak adil, karena bagi mereka yang berada di kelas yang memiliki sekor yang tinggi, harus berusaha mendapatkan sekor yang lebih tinggi untuk mendapatkan nilai A atau B. Situasi seperti ini menjadi baik bagi motivasi beberapa siswa
v  Standar relatif membuat terjadinya persaingan yang kurang sehat diantara para siswa, karena pada saat seorang atau sekelompok siswa mendapat nilai A akan mengurangi kesempatan pada yang lain untuk mendapatkannya.
v  Bila jumlah pesertanya ratusan, maka untuk memberi nilainya menggunakan statistik sederhana untuk menentukan besarnya skor rata-rata kelompok dan simpangan baku kelompok (mean dan standard deviation) sehingga akan terjadi penyebaran kemampuan menurut kurva normal.






C.    Langkah-Langkah Evaluasi Hasil Belajar
Kegiatan evaluasi yang diberikan oleh pendidik harus mengikuti aturan atau standar yang berlaku. Langkah-langkah yang harus dilalui akan merujuk pada keberhasilan evaluasi yang dilakukan pendidik. Adapun langkah-langkah yang harus dilalui dalam kegiatan evaluasi hasil belajar adalah :
1)      Menyusun rencana evaluasi hasil belajar.
 Sebelum evaluasi hasil belajar dilaksanakan, harus disusun lebih dahulu perencanaannya secara baik dan matang. Perencanaan hasil belajar itu umumnya mencakup enam jenis kegiatan, yaitu:
·         Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi; Perumusan tujuan evaluasi hasil belajar itu penting sekali, sebab tanpa tujuan yang jelas maka evaluasi hasil belajar akan berjalan tanpa arah dan pada gilirannya dapat mengakibatkan evaluasi menjadi kehilangan arti dan fungsinya.
·         Menetapkan aspek-aspek yang hendak dievaluasi. Misalnya apakah aspek kognitif, aspek afektif ataukah aspek psikomotorik.
·         Memilih dan menentukan teknik yang akan dipergunakan di dalam melaksanakan evaluasi.
·         Menyusun alat-alat pengukur yang akan dipergunakan dalam pengukuran dan penialain hasil belajar peserta didik, seperti butir-butir soal tes hasil belajar.
·         Menentukan tolak ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan untuk memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi.
·         Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri (kapan dan seberapa kali evaluasi hasil belajar itu akan dilaksanakan).

2)      Menghimpun data
Dalam evaluasi hasil belajar, wujud nyata dari kegiatan menghimpun data adalah melaksanakan pengukuran atau melakukan pengamatan, wawancara atau angket dengan menggunakan instrumen-instrumen tertentu.

3)      Melakukan verifikasi data
Data yang telah berhasil dihimpun harus disaring lebihn dahulu sebelum diolah lebih lanjut. Proses penyaringan itu dikenal dengan istilah penelitian data atau verifikasi data. Verifikasi data dimaksudkan untuk dapat memisahkan data yang “baik” (yaitu data yang dapat memperjelas gambaran yang akan diperoleh mengenai diri individu atau sekelompok individu yang sedang dievaluasi) dari data yang “kurang baik” (yaitu data yang akan mengaburkan gambaran yang akan diperoleh apabila data itu ikut serta diolah).

4)      Mengolah dan menganalisis data
Mengolah dan menganilisis hasil evaluasi dilakukan dengan maksud untuk memberikan makna terhadap data yang telah berhasil dihimpun dalam kegiatan evaluasi. Untuk keperluan itu maka data hasil evaluasi perlu disusun dan diatur demikian rupa sehingga “dapat berbicara”. Dalam mengolah dan menganalisis data hasil evaluasi itu dapat dipergunakan teknik statistik.

5)      Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan
Penafsiran atau interpretasi terhadap data hasil evaluasi belajar pada hakikatnya adalah merupakan verbalisasi dari makna yang terkandung dalam data yang telah mengalami pengolahan dan penganalisisan itu. Atas dasar interpretasi terhadap data hasil evaluasi itu pada akhirnya dapat dikemukakan kesimpulan-kesimpulan tertentu. Kesimpulan-kesimpulan hasil evaluasi itu sudah barang tertentu mengacu kepada tujuan dilakukannya evaluasi itu sendiri.

6)      Tindak lanjut hasil evaluasi
Bertitik tolak dari data hasil evaluasi yang telah disusun, diatur, diolah, dianalisis dan disimpulkan sehingga dapat diketahui apa makna yang terkandung di dalamnya maka pada akhirnya evaluator akan dapat mengambil keputusan atau merumuskan kebijakan-kebijakan yang dipandang perlu sebagai tindak lanjut dari kegiatan evaluasi tersebut.
Dalam buku berjudul, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar karya Muhammad Ali, juga dijelaskan mengenai langkah-langkah evaluasi, yakni:
·         Tahapan persiapan, Pada tahapan ini bahan-bahan yang diperlukan untuk menyusun alat evaluasi dihimpun, bahan-bahan tersebut meliputi :
                                                           i.            Tujuan Pengajaran. Yakni bentuk perilaku yang akan dievaluasi. Bila evaluasi dilakukan secara formatif tujuan pengajaran di samping untuk kepentingan evaluasi, juga dalam rangka pengembangan sistem pengajaran (system instructional). Bila evaluasi dilakukan sebagai evaluasi sumatif atau untuk kepentingan diagnostik maupun penempatan, maka perumusan tujuan disesuaikan dengan maksud tertentu. Dalam perumusan tujuan perlu diperhatikan aspek yang akan diukur berdasarkan klasifikasi taksonomi pendidikan.
                                                         ii.            Menentukan ruang lingkup dan urutan bahan berpedoman pada kisi-kisi yang dibuat. Dalam hal ini perlu diperhatikan pula penggunaan sumber bahan yang representatif, sehingga dalam mengambil sample bahan yang akan dievaluasikan betul-betul mencerminkan tentang berbagai aspek yang akan diukur. Hal ini terutama sekali berlaku bila bukan evaluasi formatif yang akan dilaksanakan.
                                                       iii.            Menuliskan butir-butir soal dengan bentuk sebagaimana direncanakan dan dibuat dalam kisi-kisi. Bila evaluasi dilaksanakan selain untuk kepentingan evaluasi formatif, soal yang dibuat perlu diuji coba terlebih dahulu sebelum diperbanyak sesuai dengan kebutuhan.
·         Tahapan pelaksanaan.
Melaksanakan evaluasi harus disesuaikan dengan maksud tertentu. Evaluasi formatif dilaksanakan setiap kali dilakukan pengajaran terhadap satu unit pelajaran tertentu. Evaluasi sumatif dilakukan pada akhir program, apakah semester atau kelas terakhir (Evaluasi Belajar Tahap Akhir termasuk pula evaluasi sumatif). Evaluasi diagnostik dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan
·         Tahap pemeriksaan,
Penentuan dan pengolahan angka atau skor. Dalam memeriksa pekerjaan hasil evaluasi seharusnya digunakan kunci jawaban, baik untuk evaluasi dengan test essay ataupun t6es obyektif. Hal ini disamping untuk mempermudah pemeriksaan juga untuk menghindari unsur subyektif dalam memberikan angka.
Angka yang diperoleh dari hasil pemeriksaan masih dalam bentuk angka mentah. Agar kita memperoleh angka masak (angka terjabar) perlu dilakukan pengolahan dengan menggunakan aturan-aturan tertentu. Untuk menghasilkan angka terjabar ini dasar penentuan angka disesuaikan dengan acuan yang digunakan, apakah aduan petokan ataukah acuan norma.





D.    Manfaat Evaluasi Hasil belajar
Secara umum manfaat yang dapat diambil dari kegiatan evaluasi dalam pembelajaran, yaitu :
       Memahami sesuatu : mahasiswa (entry behavior, motivasi, dll), sarana dan prasarana, dan kondisi dosen
       Membuat keputusan : kelanjutan program, penanganan “masalah”, dll
       Meningkatkan kualitas PBM : komponen-komponen PBM
Sementara secara lebih khusus evaluasi akan memberi manfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran, seperti siswa, guru, dan kepala sekolah.
§  Bagi Siswa, evaluasi bermanfaat untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran: Memuaskan atau tidak memuaskan. Lebih rinci, evaluasi bermanfaat dalam :
o   Untuk mengetahui kemajuan belajarnya; Kemajuan belajar murid adapat diketahui dengan membandingakan statusnya sebelum dan sesudah melakukan prestasi sebelum mengikuti pelajaran dan prestasi sesudah belajar.
o   Untuk dipergunakan sebagai dorongan atau motivasi bealajar; Keberhasilan maupun kegagalan usaha belajar yang tercermin dalam hasil studi akan berpengaruh besar bagi usaha-usaha belajar selanjutnya. Bagi murid-murid yang telah berhasil memperoleh studi yang baik yang berarti mengalami keberhasilan studi, hal itu akan dapat dijadikan pegangan atau ukuran bahwa proses atau cara belajar yang dilaksanakan selama ini sudah cukup baik.
o   Untuk memberikan pengalaman belajar atau self evaluation; Mengetahui akan keberhasilan/ kegagalan akan dapat dijadikan pegangan/ ukuran terhadap usaha-usaha belajar selanjutnya.

§  Bagi pendidik, evaluasi bermanfaat untuk mendeteksi siswa yang telah dan belum menguasai tujuan: melanjutkan, remedial atau pengayaan, ketepatan materi yang diberikan : jenis, lingkup, tingkat kesulitan, dan ketepatan metode yang digunakan. Manfaat lainnya adalah :
o   Untuk menyeleksi murid-murid yang selanjutnya berguna untuk meramal keberhasilan berikutnya; Seleksi berarti menyaring beberapa orang dari banyak orang untuk satu program studi/ lapangan kerja tertentu. Sebagai alat untuk menyeleksi tersebut dipergunakan tes/ ujian/ tugas-tugas dan lain-lain.
o   Untuk mengetahui sebab-sebab kesulitan belajar murid; Salah satu tugas dari pendidikan/ guru ialah memberikan bimbingan belajar kepada murid-muridnya, agar mereka dapat belajar dengan baik. Agar guru dapat memberikan bimbingannya dengan baik, perlu mengetahui apa kekurangan-kekurangan yang dimiliki oleh murid.
o   Untuk memberi pedoman mengajar; Tes diagnostik yang dimaksud untuk mengetahui tentang sebab-sebab kesulitan belajar murid disamping berguna untuk membimbing cara belajar murdi, berguna juga untuk memberikan bimbingan mengajar kepada guru.
o   Untuk mengetahui ketepatan metode mengajar; Dengan menilai hasil belajar murid, akan dapat diketahui prestasi murid, yaitu apakah murid-murid dalam kelas itu memperoleh skor rata-rat tinggi atau rendah.
o   Untuk penempatan murid dalam kelasnya; Dengan melakukan pengukuran terhadap prestasi murid, akan diketahui perbedaan tingkat prestasi belajar murid. Dengan mengetahui perbedaan tingkat prestasi belajar murid murid-murid ini selanjutnya berguna untuk menggolong-golongkan murid sesuai dengan tingkatannya.

§  Bagi Sekolah, evaluasi bermanfaat untuk mengetahui  hasil belajar karena hasil belajar merupakan cermin kualitas sekolah, membuat program sekolah pemenuhan standar
§  Bagi lembaga pendidikan, evaluasi bermanfaat untuk :
o   Untuk mempertahankan standar pendidikan; Dalam evaluasi hasil belajar, standar merupakan persyaratan minimum untuk menentukan lulus tidaknya atau menguasai tidaknya seseorang dalam tugas-tugas yang dibebankan kepadanya.
o   Untuk menilai ketepatan kurikulum yang disediakan; Dalam usaha mencapai tujuan pendidikan, diperlukan bermacam-macam sarana. Kurikulum merupakan sebagian saran itu.
o   Untuk menilai kemajuan sekolah yang bersangkutan; Salah satu faktor yang terpenting untuk menilai kemajuan suatu sekolah ialah dengan mengetahui tentang presatsi belajar murid-muridnya disamping tat kerja sistem administrasi, kualifikasi tenaga pengajar, perlengakapan pendidikan/ laboratorium dan sebagainya





III.             Penutup
a.       Kesimpulan
b.      Saran



Daftar Pustaka

Anonim. 2011. Evaluasi Penilaian Hasil Belajar. http://www.m-edukasi.web.id/2012/05/evaluasi-penilaian-hasil-belajar.html. Diakses pada tanggal 1 Desember 2012
Cheapestsister.2011.Perbedaan Evaluasi Hasil Belajar dengan Evaluasi Pembelajaran. http://taradifatya.blogspot.com/2011/12/perbedaan-evaluasi-hasil-blajar-dengan.html. Diakses pada tanggal 28 November 2012
FT UM. 2012. Makalah Pendek Evaluasi. http://hmmftum.blogspot.com/2012/04/makalah-pendek-evaluasi.html . Diakses pada tanggal 28 November 2012
Indien. 2012. Evaluasi Hasil Belajar. http://007indien.blogspot.com/2012/02/evaluasi-hasil-belajar.html. Diakses pada tanggal 28 November 2012
Kahar. 2011. Langkah-Langkah Evaluasi Hasil Belajar   http://kumpulanmakalahdanartikelpendidikan.blogspot.com/2011/01/evaluasi-hasil-belajar.html. Diakses pada tanggal 1 Desember 2012
Rahmi, Ulfia.2012. Evaluasi Hasil Belajar. http://ulfiarahmi.wordpress.com/evaluasi-hasil-belajar/. Diakses pada tanggal 1 Desember 2012
Tindaon,Yosi Abdian. 2012. Fungsi Evaluasi Hasil Belajar. http://yosiabdiantindaon.blogspot.com/2012/05/fungsi-evaluasi-hasil-belajar.html . Diakses pada tanggal 28 Novembr 2012

No comments:

Post a Comment