Friday, March 1, 2013

BDP Group Task - Model-Model Pengembangan Kurikulum



 “MODEL-MODEL
PENGEMBANGAN KURIKULUM”

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
PMIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS RIAU
2012

I.    Pendahuluan
a.       Latar Belakang
Zaman terus berkembang dari waktu ke waktu. Berbagai aspek kehidupan tak pernah berhenti dari proses perubahan. Kesalahan dan kekurangan menjadi tolak ukur untuk perbaikan ke arah yang lebih baik. Dalam dunia pendidikan, kurikulum merupakan suatu aspek yang menentukan keberhasilan suatu proses pembelajaran di suatu negara.

Di Indonesia, kurikulum selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan satu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang oftimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan system pendidikan dan system pemgelolaan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang digunakan


KTSP yang saat ini masih digunakan di Indonesia ternyata masih belum bisa dilaksanakan dengan baik oleh seluruh subjek pendidikan yang ada di Indonesia. Guru kurang memahami bagaimana melaksanakan KTSP dengan baik. Padahal, KTSP menuntut guru untuk mengikuti kurikulum dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing tingkat. Namun kebanyakan guru kurang memahami konsep-konsep pada KTSP sehingga tujuan pendidikan kita tidak tercapai.

Di samping untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran, makalah ini dibuat untuk memperdalam ilmu pengembangan kurikulum kepada calon guru, agar dapat mencapai tujuan bersama dan melaksanakan kurikulum yang berlaku. Dengan begitu, kita dapat meletakkan konsep pengembangan-pengembangan kurikulum sebelum kita menjadi pendidik.

b.      Rumusan Masalah
a.       Apakah yang dimaksud dengan model pengembangan kurikulum?
b.      Apa saja pendekatan pengembangan kurikulum?
c.       Apa saja model-model pengembangan kurikulum?

c.       Tujuan
a.       Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran
b.      Untuk memahami pendekatan pengembangan kurikulum
c.       Untuk mengetahui model-model pengembangan kurikulum

d.      Manfaat
a.       Dapat mengetahui pengertian model pengembangan kurikulum
b.      Dapat memahami pendekatan pengembangan kurikulum
c.       Dapat mengetahui model-model pengembangan kurikulum


II. Pembahasan
1.      Apakah yang dimaksud dengan model pengembangan kurikulum?

Pengembangan kurikulum adalah sebuah proses yang merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang baik. Dengan kata lain pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kurikulum baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian yang dilakukan selama periode waktu tertentu.

Model pengembangan kurikulum digunakan untuk mengembangkan suatu kurikulum, dimana pengembangan kurikulum dibutuhkan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum yang dibuat untuk dikembangkan sendiri baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah atau sekolah.

Menurut Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan kurikulum bisa berarti penyusunan kurikulum yang sama sekali baru (curriculum construction) bisa juga menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curriculum improvement). Sedangkan Model menurut Good dan Travers adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. Rivett (1972) menyatakan bahwa model adalah hubungan sebuah logika secara, salah satunya kualitatif atau kuantitatif, yang memberikan relevansi pada masa mendatang.

Dapat disimpulkan bahwa Pengembangan Model Kurikulum adalah suatu sistem dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang dalam penyusunan kurikulum yang baru ataupun penyempurnaan kurikulum yang telah ada yang memberikan relevansi pada masa mendatang. Nadler mengatakan bahwa model yang baik adalah model yang dapat menolong sipenggguna untuk mengerti dan memahami suatu proses yang mendasar dan menyeluruh.


2.      Apa saja pendekatan pengembangan kurikulum?

a.      Pendekatan Model Administratif
Pendekatan pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling banyak dikenal. Model administratif sering pula disebut sebagai model “garis staf” (line staff) atau “dari atas ke bawah” (top down), karena inisiatif dan gagasan dari pada administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Model admistratif pengembangan kurikulum menggunakan prosedur atas-bawah, lini staf (Topdown, line-staff procedure).

Inisiatif pengembangan kurikulum dimulai dari pejabat tingkat atas (Superintendent). Pejabat tersebut membuat keputusan tentang kebutuhan suatu program pengembangan kurikulum dan implementasinya, lalu mengadakan pertemuan dengan staf lini (bawahannya) dan meminta dukungan dari dewan pendidikan (Board of education). Langkah berikutnya adalah membentuk suatu panitia pengarah yang terdiri dari pejabat administratif tingkat atas, seperti asisten superintendent, principals, supervisor, dan guru-guru inti. Panitia pengarah merumuskan rencana umum, mengembangkan panduan kerja, dan menyiapkan rumusan filsafat dan tujuan bagi seluruh sekolah didaerahnya (District).

Disamping itu, panitia pengarah dapat mengikutsertakan organisasi diluar sekolah/tokoh masyarakat sebagai panitia penasehat yang bekerja bersama dengan personel sekolah dalam rangka merumuskan berbagai rencana, petunjuk dan tujuan yang hendak dicapai. Setelah kebijakan kurikulum dikembangkan, maka panitia pengarah memilih dan menugaskan stafpengajar sebagai panitia pelaksana (panitia kerja) yang bertanggung jawab mengkonstruksikan kurikulum.

Panitia ini merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum, isi (materi), kegiatan-kegiatan belajar dan sebagainya sesuai dengan pedoman / acuan kebijakan yang telah ditentukan oleh panitia pengarah. Panitia mengerjakan tugasnya diluar jam kerja biasa dan tidak mendapat kompensasi. Kondisi ini diterapkan karena berkaitan dengan tanggung jawab guru untuk memahami dengan benar kurikulum dan meningkatkan mutu kurikulum itu sendiri.
Setelah panitia kerja (guru-guru) melaksanakan penyusunan kurikulum melalui proses tertentu, selanjutnya kurikulum yang dihasilkan tersebut direvisi oleh panitia pengarah atau panitia tingkat atas lainnya sesuai dengan maksud diadakannya review tersebut. Panitia ini melaksanakan berbagai fungsi-fungsi, sebagai berikut:
·         Memberi koherensi pada ruang lingkup dan urutan dalam program bidang studi dengan koordinasi bersama panitia guru-guru masing-masing bidang;
·         Memeriksa kesesuaiannya dengan kebijakan kurikulum yang telah ditetapkan oleh panitia pengarah
·         menyiapkan gaya dan bentuk susunan material yang siap untuk dipublikasikan

Rencana kurikulum yang telah direvisi dan final tersebut selanjutnya ditugaskan kepada suatu panitia yang terdiri dari para administrator (principals) dan guru-guru untuk melaksanakannya dalam rangka uji coba. Para pelaksana adalah tenaga profesional yang tidak dilibatkan dalam penyusunan kurikulum (mencakup filsafat rasional, tujuan dan metodologinya) uji coba dilaksanakan dalam kondisi pengajaran senyatanya dan keefektifannya dimonitor dengan cara kunjungan kelas, diskusi, evaluasi siswa dan alat-alat lainnya. Berdasarkan hasil uji coba dilakukan modifikasi, dan selanjutnya kurikulum baru tersebut diresmikan pelaksanaanya secara nyata dalam sistem sekolah.
Namun, walaupun model administratif telah dikenal dan banyak digunakan, namun terdapat kelemahan-kelemahan, seperti :
                                                              i.      Pada prinsipnya pengembangan kurikulum dengan model ini bersifat tidak demokratis, Karena prakarsa, inisiatif dan arahan dilakukan melalui garis staf hirarkis dari atas ke bawah, bukan berdasarkan kebutuhan dan aspirasi dari bawah ke atas.
                                                            ii.      Pengalaman menunjukkan bahwa model ini bukan alat yang efektif dalam perubahan kurikulum secara signifikan, karena perubahan kurikulum tidak mengacu pada perubahan masyarakat, melainkan semata-mata melalui manipulasi organisasi dengan pembentukkan macam-macam kepanitiaan.
                                                          iii.      Kelemahan utama dari model administratif adalah diterapkannya konsep dua fase, yakni konsep yang mengubah kurikulum lama menjadi kurikulum baru secara uniform melalui sistem sekolah dalam dua fase sendiri-sendiri, yakni penyiapan dokumen kurikulum baru, dan fase pelaksanaan dokumen kurikulum tersebut.

b.      Model Grass Root
 Pendekatan pengembangan ini merupakan lawan dari model administratif. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Model pengembangan kurikulum yang pertama, digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi.

Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots, seorang guru, sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum. Pengembangan atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum. Apabila kondisinya telah memungkinkan, baik dilihat dari kemampuan guru-guru, fasilitas biaya maupun bahan-bahan kepustakaan, pengembangan kurikulum model grass roots, akan lebih baik.

Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya. Dialah yang paling tahu kebutuhan kelasnya, oleh karena itu dialah yang paling kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.

Pengembangan kurikulum yang bersifat grass roots mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu, tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk seluruh bidang studi pada sekolah atau daerah lain. Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralistik dengan model grass rootsnya, memungkinkan terjadinya kompetisi dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.
Adapun kelemahan dari pendekatan ini adalah :

1.      Usaha-usahanya bersifat lokal, tidak mempunyai koordinasi dan organisasi sehingga tidak dapat disebarkan secara nasional
2.      Pembaruan tergantung kebanyakan kepada kepala sekolah, yang mungkin otoriter dan kurang terbuka bagi pembaharuan, tetapi juga pada kemampuan dan kesediaan guru
3.      Perubahan hanya mengenai aspek-aspek tertentu dari kurikulum dan tidak menyeluruh
4.      Sekolah tidak mampu menangani peruabahan sektoral yang rumit tanpa bantuan pemerintah pusat
5.      Pembaharuan kurikulum menyangkut peraturan-peraturan pemerintah pusat dan daerah yang hanya dapat diubah bila usaha pembaruan bersifat nasional
3.      Apa saja model pengembangan kurikulum?

a.       Model Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional

Konsep dari PPSI ini adalah bahwa sistem instruksional yang menggunakan pendekatan sistem, yaitu satu kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri atas sejumlah komponen yang berhubungan satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan fungsi PPSI adalah untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistemik dan sistmatis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

Langkah-langkah dari pengembangan model PPSI ini adalah sebagai berikut:
·         Merumuskan Tujuan. Langkah ini menggunakan istilah yang operasional, berbentuk hasil belajar, berbentuk tingkah laku, dan hanya ada satu kemampuan atau tujuan.
·         Pengembangan Alat Evaluasi. Dalam mengembangkan alat evaluasi, langkah-langkahnya adalah menentukan jenis tes yang akan digunakan dan menyusun item soal untuk setiap tujuan.
·         Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Langkah ketiga yaitu merumuskan semua kemungkinan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan dan menetapkan kegiatan pembelajaran yang akan ditempuh.
·         Pengembangan Program KBM. Dalam pengembangan program KBM, maka langkah-langkahnya ialah merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode yang digunakan, memilih alat dan sumber yang digunakan dan menyusun program kegiatan atau jadwal.
·         Pelaksanaan. Langkah yang terakhir yaitu mengadakan pre-test, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan post-tes dan revisi

b.      Model Rogers
Cari Rogers adalah seorang ahli psikologi yang berpandangan bahwa manusia dalam proses perubahan mempunyai kekuatan dan potensi untuk berkembangsendiri. Berdasarkan pandangan tentang manusia maka rogers mengemukakan model pengembangan kurikulum yang disebut dengan model Relasi Interpersonal Rogers.
Ada empat langkah pengembangan kurikulum model rogers diantaranya adalah:
1.      Pemilihan satu sistem pendidikan sasaran; di dalam penentuan target ini satu-satunya kriteria yang menjadi pegangan adalah adanya kesediaan dari pejabat pendidikan/administrator untuk turut serta dalam kegiatan kelompok secara intensif. Selama satu minggu pejabat pendidikan/administrator melakukan kegiatan kelompok dalam suasana relaks, tidak formal.
2.      Pengalaman kelompok yang intensif bagi guru; Keikutsertaan guru dalam kegiatan sebaiknya secara sukarela. Lama kegiatan satu minggu atau kurang. Menurut Rogers bahwa efek yang diterima sejalan dengan para administrator seperti telah dikemukakan di atas, dengan beberapa tambahan, yakni :
§  Guru menjadi lebih mampu mendengarkan siswa
§  Guru menerapkan pembelajaran inovatif, menerima ide dari siswa dan tidak memaksakan sesuatu
§  Guru mempererat hubungan dengan siswa
§  Guru menyelesaikan masalah bersama-sama dengan siswa, tidak memutuskan sendiri atau menghukum sepihak
§  Guru menciptakan iklim keseimbangan dan demokratis di dalam kelas
3.      Pengembangan satu pengalaman kelompok yang intensif bagi satu kelas atau unit pelajaran; Selama lima hari penuh peserta didik ikut serta dalam kegiatan kelompok, dengan fasilitator guru atau administrator atau fasilitator dari luar. Menurut Rogers bahwa dari kegiatan ini peserta didik akan mendapatkan :
§  Peserta didik merasa lebih bebas untuk mengekspresikan perasaan positif dan negatif di kelas
§  Peserta didik bekerja menggunakan perasaan lalu mendapatkan solusi yang realistis.
§  Peserta didik memiliki lebih banyak energi untuk belajar karena ia memiliki sedikit rasa takut terhadap dan hukuman.
§  Peserta didik menyadari bahwa ia bertanggung jawab untuk belajar sendiri.
§  Peserta didik menyadari bahwa proses pembelajaran memungkinkan dia untuk menyelesaikan masalah di dalam kehidupannya
4.      Melibatkan orangtua dalam pengalaman kelompok yang intensif; Kegiatan ini dapat dikoordinasi oleh Komite Sekolah masing-masing sekolah. Lama kegiatan kelompok tiga jam tiap sore hari selama seminggu atau 24 jam secara terus menerus. Kegiatan ini bertujuan memperkaya orang-orang dalam hubungannya dengan sesama orang tua, dengan anak, dan dengan guru.
Rogers lebih mementingkan kegiatan pengembangan kurikulum daripada rencana pengembangan kurikulum tertulis, yakni melalui aktivitas dan interaksi dalam pengembangan kelompok intensif yang terpilih.
c.       Model Tyler
Pengembangan Model Kurikulum Tyler ini, lebih bersifat bagaimana merancang suatu kurikulum sesuai dengan tujuan dan misi suatu institusi pendidikan dengan demikian, model ini tidak menguraikan pengembangan kurikulum dalam bentuk langkah-langkah konkret atau tahapan-tahapan secara rinci. Tyler hanya memberikan dasar-dasar pengembangannya saja. Menurut Tyler ada 4 hal yang dianggap fundamental untuk mengembangkan kurikulum yaitu:

·         Menentukan Tujuan
Merumuskan tujuan kurikulum, sebenarnya sangat tergantung dari teori dan filsafat pendidikan serta model kurikulum apa yang dianut. Merumuskan tujuan merupakan langkah pertama dan utama yang harus dikerjakan. Sebab, tujuan merupakan arah atau sasaran pendidikan.

·         Menentukan Pengalaman Belajar (Learning Experiences)
Pengalaman belajar adalah segala aktifitas siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan. Pengalaman belajar bukanlah isi atau materi pelajaran dan bukan pula aktifitas guru memberikan pelajaran. Pengalaman belajar menunjukkan pada aktifitas siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian yang harus dipertanyakan dalam pengalaman ini adalah “apa yang akan atau telah dikerjakan siswa” bukan “apa yang akan atau telah diperbuat guru”.

·         Mengorganisasi Pengalaman Belajar
Langkah ketiga dalam merancang suatu kurikulum adalah mengorganisasikan pengalaman belajar baik dalam bentuk unit mata pelajaran maupun dalam bentuk program. Langkah pengorganisasian ini sangatlah penting, sebab dengan pengorganisasian yang jelas akan memberikan arah bagi pelaksanaan proses pembelajaran. Sehingga menjadi pengalaman belajar yang nyata bagi siswa.

·         Evaluasi
Proses evaluasi merupakan langkah untuk mendapatkan informasi tentang ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dengan evaluasi dapat ditentukan apakah kurikulum yang digunakan sudah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah atau belum. Evaluasi harus menilai apakah telah terjadi perubahan tingkah laku siswa dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan dan juga evaluasi seharusnya menggunakan lebih dari satu alat penilaian dalam suatu waktu tertentu.

d.      Model Beauchamp’s
Model ini lebih dikenal dengan sistem Beauchamp’s, karena memang diciptakan dan dikembangkan oleh Beauchamp yang seorang ahli kurikulum. Dalam model ini dikemukakan lima tahap dalam pengembangan kurikulum, yaitu menetapkan arena atau lingkup wilayah yang akan melakukan perubahan kurikulum, menetapkan personalia yang terlibat dalam pengembangan kurikulum dan hal ini disarankan oleh Beauchamp agar melibatkan seluas-luasnya para tokoh dimasyarakat, organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum, implementasi kurikulum, dan evaluasi kurikulum.
Kurikulum model sistemik Beauchamp mengidentifikasi serangkaian pembuatan keputusan penting dalam dunia pendidikan yang saat ini masih terpakai dalam pengimplementasian rangkaian materi ajar. Ada beberapa pemikiran Beaucham yang berpengaruh terhadap penerapan kurikulum, diantaranya sebagai berikut:
1.      Adanya arena rekayasa kurikulum. Untuk mengimplemntasikan kurikulum pendidikan harus ada wadah yang tepat berupa wadah/lembaga pendidikan guna bagaimana menerapkan, mengevaluasi dan merevisi pengembangan rekayasa kurikulum tersebut. Dengan adanya arena rekayasa kurikulum maka diharapkan mampu menunjukkan perbandingan ketepatan-mana yang bisa terpakai dan mana yang memerlukan perbaikan yang berlanjut.
2.      Memilih dan melibatkan:
a.        Spesialis, tenaga spesialis merupakan tenaga ahli dalam bidang rancang bangun kurikulum pendidikan. Tenaga spesialis ini mampu menciptakan bentuk yang tepat dengan membaca perkembangan zaman sehingga pendidikan secara terus menerus berkembang,
b.      Guru kelas, tenaga pendidik sebagai ujung tombak pendidikan karena guru yang mengajar di kelas paling banyak mengetahui perkembangan materi ajar, dengan demikian guru 99% keterlibatannya dalam me-update kurikulum pendidikan setiap saat
c.       Para profesional dalam sistem sekolah, tenaga profesional bisa menjadi sumber inspirasi bagi perkembangan pendidikan karena dengan hadirnya tenaga profesional berarti melakoni satu bidang ilmu dengan sebaik dan seoptimal mungkin dengan tujuan menerampilkan peserta didik itu sendiri, dan
d.      Para profesional ditambah beberapa anggota masyarakat dari berbagai lapisan yang diambil secara refresentatif. Tenaga profesional dan masyarakat sebagai pemilik product pendidikan maka sangat diperlukan saran kritikan yang hadir dari mereka.
3.      Implementasi kurikulum. Penerapan kurikulum merupakan reaksi masukan dari berbagai elemen dan sesuai dengan perkembangan pendidikan sehingga akan menghasilkan pengetahuan objektif dan mampu/trampil meningkatkan tarap hidup masyarakat.
4.      Evaluasi kurikulum. Dalam hal ini minimal memiliki empat dimensi:
1)       Evaluasi terhadap kurikulum yang digunakan guru
2)      Evaluasi desain kurikulum
3)      Evaluasi lulusan
4)      Evaluasi sistem kurikulum.

Gambaran di atas, menunjukkan bahwa evaluasi terhadap pengembangan kurikulum model Beaucham ini digunakan untuk memberikan kesinambungan serta pertumbuhan dari tahun ketahun atau perseuaian dengan konteks. Secara umum, model ini sudah dianggap lengkap (ada rancangan, tujuan, analisis, dan evaluasi), namun masih terdapat berbagai pertanyaan yang tak terjawab dalam proses rekayasa kurikulum. Dalam beberapa hal, model ini hampir sama dengan model administratif, terutama dalam orientasinya dari atas kebawah (bersifat sentralistik).

     
Daftar Pustaka

Darul, Aman. 2011. Pengembangan Kurikulum Model Sistemik Dari Beauchamp. http://www.lintasgayo.com/8893/pengembangan-kurikulum-model-sistemik-dari-beauchamp/. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2012.
Muslim, Iman. 2008. Model-Model Pengembangan Kurikulum. http://iimranin.blogspot.com/2008/01/model-model-pengembangan-kurikulum.Diakses pada tanggal 14 Oktober 2012
Rumapea, Intan .2011.Model-Model Pengembangan Kurikulum dan Fungsinya bagi Guru.http://intanrumapea.wordpress.com/2011/10/22/model-model-pengembangan-kurikulum- dan-fungsinya-bagi-guru/. Diakses pada 14 Oktober 2012
Unie, Thea. 2011. Model-Model Pengembangan Kurikulum. http://aauniethea.blogspot.com/2011/11/model-model-pengembangan-kurikulum/.Diakses pada tanggal 15 Oktober 2012.

No comments:

Post a Comment