Wednesday, May 29, 2013

Desember Kelabu

Siapa bilang ulang tahun selalu bahagia?
Siapa bilang? Teori mana yg bilang begitu?
Well, I had a terrible moments during my birthday last year,
that makes me so numb and got no one to talk..
This pain is just too strong, cannot healed and cannot be erased..
This is my story, about the wishes and hopes that flew away to nowhere.....
--------------------------------:))


Senja di penghujung November telah perlahan menghilang..
Berganti malam dengan sang ratu, bulan, dan seluruh punggawa bintang..
Berkeliaran menanti datangnya bulan penghujung tahun,
bulan kesayanganku, Desember..

Setiap tahun yang telah kujalani,
Desember selalu terasa berbeda..
Ada jiwa yang lepas bersama umurku yg kian bertambah tua..
Ada keraguan yang hangat menyapa hati,
Akankah aku bisa lebih baik?
Akankah aku bahagia?


Malam demi malam kuhitung mundur,
Hari demi hari semakin tak sabar,
Hingga kini hanya menunggu detik-detik pendewasaan diri secara resmi..

1 Desember 2012, 11.59 PM
 Dag-dig-dug,
Walau di belahan bumi lain ku yakin 2 Desember telah datang,
dengan senyuman aku menanti tanggal 2 pada arloji ku..

2 Desember 2012, 12.00 AM
Kupeluk guling seraya berguling kesamping memperbaiki posisi..
Langit-langit kamar seperti melukiskan wajahku..
Wajah yg sudah tidak muda lagi,
bahkan sudah tidak seperti remaja..
Ya, aku sudah memasuki usia 20 tahun..
Kepala dua!

Kutatap layar handphone,
Ucapan silih berganti meneroobos masuk ke kotak masuk,
dan dengan bersemangat aku membalas dan mengaminkan seluruh doa..
Saat-saat bahagia ketika melihat banyak orang berdoa untuk kesuksesan dunia akhirat,
tidak akan terjadi setiap harinya..
Namun yg paling bahagia adalah 2 Desember kali ini,
aku berada di rumah bersama orangtuaku..

Saat pagi menjelang, kurasakan matahari menebar pesona
Lebih agresif dari pagi-pagi sebelumnya..
Pagi itu, pagi minggu yang cerah..
Bapak dan mama mengecup keningku dan mengucapkan selamat..
Dari tatapan matanya aku tahu bukan sekedar selamat..
Bukan sekedar ucapan bahagia karena aku berulang tahun..
Dibalik senyum dan canda tawa pagi itu,
aku menafsir sebuah gurat cemas dari pelupuk mata keduanya..
Lebih sebagai kekhawatiran mendalam, aku semakin dewasa..
Sudah siapkah mereka melepaskanku?

Perasaanku campur aduk karena aku tidak bisa
menghabiskan waktu seharian bersama keluarga..
Aku harus kembali ke kontrakan,
kembali bersama keluarga keduaku,
teman-teman seperjuanganku,
saudari-saudari ku tercinta,
di tepian kota sana, Panam..

Berat langkahku meninggalkan rumah,
karena tidak akan pernah cukup waktu  untuk berada di rumah,
yang bagiku serupa dengan istanaku..

Berjalan di kerumunan pasar yang ramai,
Aku merasa semua orang berbahagia di hari itu,
hari yang istimewa untukku..
Mereka tertawa, berbicang dengan semangat,
berkelakar dengan lantang, hingga klakson mobil yang berirama
seolah mengucapkan selamat untukku..
SELAMAT ULANG TAHUN UNTUKKU

Menengadah langit, tak sedikitpun awan menghitam..
Tak sedikitpun warna biru ingin bertukar shift dengan warna kelabu..
Cerah, begitu cerah, secerah hatiku yang menari-nari gembira..

Jendela bus kota sore itu begitu menarik..
Udara di dalamnya tak sedikitpun menggangguku,
karena, asal mereka tahu, aku sedang bahagia..

Kualihkan pandangan kepada sebuah kotak besar,
yang sedang kupangku dengan hati-hati..
Sesuai amanah mama ku, aku membeli kue untuk ulang tahunku..
Hanya saja aku akan merayakan bersama keluarga keduaku..

Tercium olehku wangi vanilla dari sela-sela kotak yg kurang tertutup rapat..
Terasa olehku dinginnya dasar kue menembus kotak dang mengalir di tubuhku..
Terbayang olehku wajah teman-temanku di sana,
yg kuyakin tak sabar menunggu ku pulang..

Bus belum juga berjalan..
Aku semakin tak sabar dan kembali meraba tas sandang,
dan menarik keluar sebuah kotak kecil,
berisi lilin angka 2 dan 0,
sebagai simbol 20 tahun umurku..
Lilin yg akan berbaris rapi di tengah kue vanila ku,
dan membakar dirinya sendiri sebagai penghormatan kepada ulang tahunku..

Tak dapat kuhindari aku tersenyum sendiri,
membayangkan perayaan ulang tahunku dengan mereka..
Untuk mereka, aku rela tidak merayakan bersama keluargaku...
Walaupun berat, aku menganggap mereka seperti keluargaku..
Kakak dan adik-adikku, yg paling aku sayangi..

Tangan keram tak juga kuacuhkan,
demi menjaga kotak di pangkuangku,
agar jangan sampai mereng dan merusak hartaku di dalamnya..
Tak sedetikpun aku tertidur selama perjalanan,
tak sedikitpun aku melamunkan kesedihan..
Aku hanya ingin segera meniup lilin dan merayakan bersama mereka,
SECEPATNYA sebelum tanggal ini berlalu...

Namun hidup, tak pernah seperti yang kita bayangkan..
Jika beruntung kita akan mendapatkan apa yang kita harapkan,
bahkan dengan usaha yang sangat mudah..

Namun kali ini seluruh tubuhku terasa terbanting,
keras dan tak bisa kutemukan lagi tiang untuk kembali bangkit..
Bangkit menuju kepercayaan itu lagi,
kepercayaan yg menjadikan kalian saudariku..
Seolah sirna, hilang, ditelan malam yg kelam tanpa bintang..

Kugenggam kotak lilin yg masih terbungkus rapi,
bahkan belum tersentuh tangan yang lain..
Aku bisa merasakan kesedihannya tidak jadi berguna untukku,
tidak jadi dibakar sesuai tujuan penciptaannya,
seperti bukan jodohku untuk bersama lilin tak berdosa itu..

Masih 2 Desember, 08.00 PM
Tak seorangpun mengerti keinginanku..
Apa yang telah kupikirkan selama tiga jam,
peluh yang mengalir ketika aku menentengnya,
keramnya kaki dan tanganku untuk menjaga kecantikannya,
impian dah harapanku untuk meniup lilin di atas kue,
musnah, hancur, seketika berubah menjadi mimpi buruk,
yang tak pernah aku inginkan dalam hidupku..

Oh Tuhan, inikah hidup?
Terbayang lagi suara mamaku yg ceria,
ketika tahu aku telah membeli kue..
Terucap olehnya maaf karena tak bisa merayakan ulang tahun bersamaku..
Kepedihan yang menjalar merasuki tubuhku secara tiba-tiba menyadarkanku,
karena seharusnya, aku juga tidak merayakannya disini..

Detik demi detik kutunggu,
kesabaranku telah mencapai batas..
Bukan untuk marah, tapi air mata yang berontak
Seolah ingin menhancurkan bendungan yang telah aku bangun..
Pedih,, perih, namun aku tak ingin hari ini berakhir begitu saja..

Aku bangkit dengan tenaga yang tersisa,
dengan harapan yang tersisa..
Aku mengutip harapan yang tersisa di dasar hatiku,
sekedar memberi kekuatan padaku,
untuk memotong kue..

Kugenggam pisau di tangan kanan,
dan kotak berisi lilin di tangan kiri..
Setan dalam hatiku mendorong agar aku membuang saja kue itu,
tapi aku tak bisa berlari lebih jauh lagi..
Harus kuhadapi kenyataaan bahwa aku membeli kue untuk diriku sendiri,
dan memotongnya sendirian..


Kutuntun pisau secara perlahan mendekati tepian kue,
dalam hati aku bernyanyi potong kue seperti orang lain,
dan akhirnya kue terpotong..

Entah karena perasaanku,
Kue terasa hambar,
kue terburuk yang pernah aku makan..
Kue terburuk yang pernah aku makan di hari ulang tahunku..

Inikah balasan,
terhadap penantianku selama berbulan-bulan?

Aku ingin memotong kue dikelilingi oleh mereka,
seperti aku mengelilingi beberapa bulan yang lalu..
Hancur perasaan dan tubuhku,
kala kulihat tak seorangpun yang semangat memakan..
Mungkin aku telah mengirim sumpah kepada kue itu
Agar tidak mengeluarkan rasa apa-apa,
biar terasa hambar dan hancur seperti hatiku malam itu..

Lilin yg masih utuh,
untuk apalagi kusimpan?
Remukannya masih kusimpan di dalam hatiku,
di dalam kesendirianku...
Seperti Desember yang berlalu bagai bencana,
kini aku hidup dalam bayang-bayang trauma..

Aku membenci hal itu..
Kue ulang tahun,
Lilin berbentuk angka..
Bahkan membayangkan Desember saja membuatku lemah..
Lemah karena telah habis kenanganku,
tersapu bersih oleh malam penuh harapan...

Tak ada lagi album di Facebook  ku,
menandakan ulang tahunku seperti tahun 2011..
Di saat kalian masih menganggapku penting,
dan aku merasa luar biasa kala itu,
dengan kebanggaan luar biasa pula mengunggah albumnya..
Agar dunia tahu kebersamaan kami..

Namun semuanya telah tinggal kata-kata..
Aku, lilin, dan kue busukku..
Telah membuka tahun 2013 dengan prasangka tak sehat..
Dengan perasaan campur aduk menghadapi wajah orang-orang
yang aku sayangi, tapi tidak terlalu mencintaiku..

Disini, aku hanya punya kalian...
Satu-satunya tumpuan harapanku..
Tempat bersandar dan mengadu..
Tempat yg akan menyadarkanku atas segala khilafku..
Tempat yg kini terasa dingin dan bahkan tak ada tempat lagi untukku
Bercerita dan menikmati hidup,
karena aku kini hanya berpura-pura,

Berpura-pura percaya bahwa kalian menyayangiku,
Berpura-pura yakin aku bisa mengandakan kalian,
Berharap-harap cemas suatu saaat kalian akan benar-benar pergi..
Dan perlahan semua prasangka terbuka..
Terbuka lebar di mataku..

Aku hanya ingin didengar,
seperti aku mendengarkan kalian..
Aku hanya ingin ditemani,
seperti aku menemani kalian...
Aku hanya ingin dibutuhkan,
seperti aku membutuhkan kalian..

Apabila memang sudah tak ada tempat lagi,
maka biarlah sandiwara ini berlalu..
Karena aku tak tahu lagi kemana harus berlari,
kemana harus berjalan ketika kalian tak ada..

Biarlah waktu yg memisahkan kita,
walau hati kita tidak pernah menyatu..
Aku hanya ingin membahagiakan.
karena hidup ku tak berjalan indah seperti kalian..
Aku hanya bertemankan smartphone yg aku butuhkan lebih dari apapun..
Tidak ada teman lain, saudara mara, teman baru, teman lama, apalagi kekasih hati yg dapat menghibur..

Biarlah begini,
dan biarkan Deseember 2012 menjadi bulan kelabu sepanjang masa,
yang membuat aku trauma sekaligus hilang kepercayaan,
namun aku harap kalian selalu bahagia, dimanapun berada..

-CHP23

No comments:

Post a Comment